Pemerintah Jepang Tawarkan Dana Hibah untuk Masyarakat Aceh, Maksimal Rp 1 Miliar Setiap Penerima

0
34

Kruesemangat.com, Banda Aceh – Dikutip dari serambinews.com, Pemerintah Jepang melalaui program Official Development Assistance (ODA), sedang menyasar masyarakat di berbagai negara bekembang di seluruh dunia, untuk memberi bantuan berupa dana hibah atau disebut grassroots.

Bantuan dana hibah ini diberikan percuma oleh Pemerintah Jepang untuk mewujudkan pembangunan ekonomi dan sosial di negara tersebut.

Hal itu dikatakan Vice Consul Konsulat Jepang di Medan, Masamu Yamamori saat berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Meunasah Manyang PA, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Jumat (5/4/2019).

Kedatangan Masamu Yamamori disambut oleh Manager Newsroom Serambi Indonesia, Bukhari M Ali.

Yamamori khusus datang ke Aceh untuk menyampaikan informasi bantuan Pemerintah Jepang tersebut.

“Saya khusus datang ke sini untuk menyebarluaskan informasi ini. Selama ini kita sudah sering membantu pembangunan proyek-proyek sekolah di Aceh, tapi informasi tentang ini masih kurang,” kata Yamamori.

Dia mengatakan, dalam program ODA, ada tiga jenis bantuan yang disediakan oleh Pemerintah Jepang.

Pertama, pinjaman Yen, kerja sama teknik, dan bantuan dana hibah.

“Khusus untuk pinjaman Yen dan kerja sama teknik, itu biasanya melalui pemerintah. Tapi yang dana hibah ini sasarannya masyarakat melalui yayasan atau lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan, dan sebagainya,” kata Yamamori yang fasih berbahasa Indonesia.

Dia menjelaskan, dana hibah atau grassroots adalah salah satu skema bantuan hibah dari Pemerintah Jepang yang sudah dimulai sejak 1989.

“Program ini sudah dilaksanakan di lebih dari 140 negara,” katanya.

Menurut Yamamori, melalui dana hibah ini, pihak Pemerintah Jepang menyediakan dana langsung dan cepat bagi setiap penerima.

Total maksimal dana yang bisa dicairkan mencapai Rp 1 miliar. “Satu miliar itu maksimal,” katanya.

Lalu, siapa yang bisa mengajukan dan menerima bantuan dana hibah Jepang tersebut?

Yamamori menjelaskan, bantuan dana hibah ini diperuntukkan khusus kepada kepada yayasan pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan sosial kesejahteraan.

Yayasan yang bisa mengajukan permohonan adalah organisasi non-profit dan non-goverment yang sudah terdaftar secara resmi di institusi pemerintah sesuai bidangnya masing-masing.

Untuk pendidikan, bantuan harus digunakan untuk pembangunan gedung sekolah seperti SD, SMP, SMA, dan lain-lain.

Untuk kesehatan, pembangunan klinik kesehatan, klinik bersalin, saluran air bersih, dan sebagainya.

“Kalau lingkungan boleh untuk pembangunan tempat pengolahan limbah, pembangunan bank sampah, kompos dan sebagainya. Sedangkan sosial kesejahteraan bisa untuk pembangunan panti asuhan, pusat rehabilitasi, dan lain-lain,” ujar Yamamori.

Dana hibah tidak diperuntukkan untuk proyek yang tidak jelas manfaatnya, tidak memiliki hubungan dengan pengembangan sosial, dan proyek yang memiliki tujuan politik dan keagamaan. “Untuk tiga hal itu tidak boleh,” katanya.

Nah, apakah semua yayasan bisa mendapatkan bantuan dari Pemerintah Jepang.

Eittss, tunggu dulu, ada syaratnya. Menurut Yamamori, semua yayasan bisa mengajukan permohonan dana hibah tersebut, asalkan bersedia membuat proposal dan mengisi formulir aplikasi.

Kemudian membuat laporan keuangan organisasi selama dua tahun terakhir, rekomendasi dari pemerintah setempat (minimal setingkat bupati), dan penawaran dari kontraktor dan supplier berbeda.

“Nanti kita di konsulat di Medan akan melihat kelengkapan berkas dan akan kita nilai siapa yang pantas menerima. Jika sudah oke, baru nanti kita kirim ke Pemerintah Jepang di Tokyo, untuk pencairan dananya dan akan ada acara seremonial penerimannya,” kata Yamamori.

Untuk info lebih lanjut tentang informasi penawaran bantuan dana hibah dari Pemerintah Jepang ini bisa diakses melalui www.id.emb-japan.go.jp atau melalui telepon 061-4575193.

Sementara itu, Manager Newsroom Serambi Indonesia, Bukhari M Ali menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Jepang yang terus berkontribusi dan membantu negara lainnya, khususnya Aceh.

(ryan)