Pimpinan Ponpes di Aceh Divonis 190 Bulan Penjara, Terkait Kasus Pencabulan Satri

0
3

Kruesemangat.com, Majelis hakim Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe, Aceh, menjatuhkan vonis 190 (15 tahun lebih) bulan penjara kepada Ali Imran (45) pimpinan salah satu pesantren di Lhokseumawe, dan seorang guru ngaji Miyardi (26) 160 bulan penjara (13 tahun lebih) .

Majelis menilai kedua orang itu terbukti bersalah, telah melakukan pencabulan terhadap 15 santrinya yang masih dibawah umur. Ali dan Miyardi dijerat Pasal 50 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Terbukti bersalah dan menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa Ali Imran dengan hukuman penjara selama 190 bulan dan Miyardi 160 bulan, kata Hakim Ketua Azmir, saat membacakan amar putusan, didampingi hakim anggota Ahmad Luthfi, dan Kamaruddin Abdullah di PN Lhokseumawe, Kamis (30/1) .

Majelis juga memerintahkan keduanya membayar restitusi 30 gram emas kepada 15 anak yang menjadi korban pelecehan seksual. Majelis tidak menjatuhkan hukuman cambuk kepada kedua orang itu. Musababnya, hukuman cambuk dalam hal kasus pencabulan seperti ini adalah hukuman alternatif.

Vonis itu lebih rendah dari tuntutan jaksa. Jaksa sebelumnya menuntut Ali 200 bulan penjara dan Miyardi 170 bulan penjara.

Sementara itu, penasihat hukum kedua terdakwa, Armia, mengatakan akan melakukan banding terhadap keputusan itu. Dia melihat pertimbangan hukum yang dibacakan hakim, jauh dari fakta persidangan dan alat bukti yang sah.

Karena itu kita melakukan banding, walau satu hari pun divonis kita tetap akan banding. Ini bukan masalah ringan atau berat, ujarnya. Kasus pencabulan yang dilakukan Ali dan Miyardi berlangsung sejak tahun 2018. Kasus baru terungkap setelah salah satu korban memberanikan diri lapor ke polisi.

Setelah mendapat laporan, polisi memeriksa kedua guru itu pada 8 Juli 2019. Sehari setelah pemeriksaan, keduanya langsung ditahan.

(ryan)